Selasa, 08 Juli 2014

askep GENITOURINARY TRAUMA


ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

DENGAN  GANGGUAN PERKEMIHAN : GENITOURINARY TRAUMA

  
DI SUSUN
OLEH

OLEH: KELOMPOK 1

1.      AKBAR
2.      KARTIA
3.      NURMINA
4.      KAMARUDDIN
5.      SUPRIADI
6.      SYAMSI LILI
7.      NURAENI
8.      INDRA.B
9.      FITRIANI MAPPASOMBA
10.  NURRAHMI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PATRIA ARTHA
MAKASSAR
2014


TRAUMA PADA SALURAN KEMIH


*        KONSEP MEDIS

1.        TRAUMA BLADDER
A.    Definisi
Trauma tumpul atau penetrasi perlukaan pada bladder yang mungkin dapat/tidak dapat menyebabkan ruptur bladder. Trauma bladder sering berhubungan dengan kecelakaan mobil saat sabuk pengaman menekan bladder, khususnya bladder yang penuh.

B.     Etiologi dan faktor resiko
Kandung kencing yang penuh dengan urine dapat mengalami rupture oleh tekanan yang kuat pada perut bagian bawah. Cidera ini umumnya terjadi karena pemakaian sabuk pengaman pada klitis.

C.    Manifestasi klinik
Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih.
Test diagnostik  pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai disrupsi tersebut teratasi.


2.        TRAUMA URETRA
Uretra, sama seperti bladder, dapat mengalami cidera/trauma karena fraktur pelvic. Terjatuh dengan benda membentur selangkangan (stradle injury) dapat menyebabkan contusio dan laserasi pada uretra. Misalnya saat jatuh dari sepeda. Trauma dapat juga terjadi saat intervensi bedah. Luka tusuk dapat pula menyebabkan kerusakan pada uretra.

Kerusakan uretra ini diindikasikan bila pasien tidak mampu berkemih, penurunan pancaran urine, atau adanya darah pada meatus. Karena kerusakan uretra, saat urine melewati uretra, proses berkemih dapat menyebabkan ekstravasasi saluran urine yang menimbulkan pembengkakan pada scrotum atau area inguinal yang mana akan menyebabkan sepsis dan nekrosis. Darah mungkin keluar dari meatus dan mengekstravasasi jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan ekimosis. Komplikasi dari trauma uretra adalah terjadinya striktur uretra dan resiko impotent. Impotensi terjadi karena corpora kavernosa penis, pembuluh darah, dan suplay syaraf pada area ini mengalami kerusakan.

Penatalaksanaan trauma uretra meliputi pembedahan dengan pemakaian kateter uretra atau suprapubik sebelum sembuh, atau pemasangan kateter uretra/suprapubik dan membiarkan urethra sembuh sendiri selama 2 – 3 minggu tanpa pembedahan. Selama periode tersebut pasien dimonitor untuk terjadinya infeksi atau ekstravasasi urine.

3.        TRAUMA URETER
Lokasi ureter berada jauh di dalam rongga abdomen dan dilindungi oleh tulang dan otot, sehingga cidera ureter karena trauma tidak umum terjadi. Cidera pada ureter kebanyakan terjadi karena pembedahan. Perforasi dapat terjadi karena insersi intraureteral kateter atau instrumen medis lainnya. Luka tusuk dan tembak juga dapat juga membuat ureter mengalami trauma. Dan meskipun tidak umum, tumbukan atau decelerasi tiba-tiba seperti pada kecelakaan mobil dapat merusak struktur ureter. Tindakan kateterisasi ureter yang menembus dinding ureter atau pemasukan zat asam atau alkali yang terlalu keras dapat juga menimbulkan trauma ureter.

Trauma ini kadang tidak ditemukan sebelum manifestasi klinik muncul. Hematuria dapat terjadi, tapi indikasi umum adalah nyeri pinggang atau manifestasi ekstravasasi urine. Saat urine merembes masuk ke jaringan, nyeri dapat terjadi pada abdomen bagian bawah dan pinggang. Jika ekstravasasi berlanjut, mungkin terjadi sepsis, ileus paralitik, adanya massa intraperitoneal yang dapat diraba, dan adanya urine pada luka terbuka. IVP dan ultrasound diperlukan untuk mendiagnose trauma ureter ini. Pembedahan merupakan tindakan utama untuk memperbaiki kerusakan, mungkin dengan membuat anastomosis. Kadang-kadang prosedur radikal seperti uterostomy cutaneus, transureterotomy, dan reimplantasi mungkin dilakukan.

*        KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1.        PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pada dasarnya pengkajian yang dilakukan menganut konsep perawatan secara holistic. Pengkajian dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.  Pada kasus ini akan dibahas khusus pada sistim tubuh yang terpengaruh :
a.       Ginjal (Renal)
Kemungkinan Data yang diperoleh :
-          Oliguria (produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam)
-          Anuria (100 cc / 24 Jam
-          Infeksi (WBC , Bacterimia)
-          Sediment urine mengandung : RBC,

b.      Riwayat sakitnya dahulu.
-          Sejak kapan muncul keluhan
-          Berapa lama terjadinya hipertensi
-          Riwayat kebiasaan, alkohol,kopi, obat-obatan, jamu
-          Waktu kapan terjadinya nyeri kuduk dan pinggang
c.       Pola : Makan, tidur, eliminasi, aktifitas, dan kerja.
d.      Pemeriksaan fisik
·         Peningkatan vena jugularis
·         Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas
·         Anemia dan kelainan jantung
·         Hiperpigmentasi pada kulit
·         Pernapasan
·         Mulut dan bibir kering
·         Adanya kejang-kejang
·         Gangguan kesadaran
·         Pembesaran ginjal
·         Adanya neuropati perifer
e.       Test Diagnostik
·         Pemeriksaan fungsi ginjal, kreatinin dan ureum darah
Menyiapkan pasien yang akan dilakukan Clearens Creatinin Test (CCT) adalah:
·         Timbang Berat badan dan mengukur tinggi badan
·         Menanmpung urine 24 jam
·         Mengambil darah vena sebanyak 3 cc (untuk mengetahui kreatinin darah)
·         Mengambil urine 50 cc.
·         Lakukan pemeriksaan CCT
·         Persiapan Intra Venous Pyelography
·         Puasakan pasien selama 8 jam
·         Bila perlu lakukan lavemen/klisma.

2.        DIAGNOSA PERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
a)      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya stoma, aliran/rembesan urine dari stoma, reaksi terhadap produk kimia urine.
b)      Gangguan body image berhubungan dengan adanya stoma, kehilangan kontrol eliminasi urine, kerusakan struktur tubuh ditandai dengan menyatakan perubahan terhadap body imagenya, kecemasan dan negative feeling terhadap badannya.
c)       Nyeri berhubungan dengan disrupsi kulit/incisi/drains, proses penyakit (cancer/trauma), ketakutan atau kecemasan ditandai dengan menyatakan nyeri, kelelahan, perubahan dalam vital signs.
d)      Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan trauma jaringan, edema postoperative ditandai dengan urine output sedikit, perubahan karakter urine, retensi urine.
e)       Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan struktur body dan fungsinya, response pasangan yang tidak adekuat, disrupsi respon seksual misalnya kesulitan ereksi.
f)        Deficit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk menangkap informasi, misinterpretasi terhadap informasi ditandai dengan menyatakan miskonsepsi/misinterpretasi, tidak mampu mengikuti intruksi secara adekuat.
g)      Inkontinensia berhubungan dengan obstruksi saluran kemih
h)      Resiko komplikasi infeksi berhubungan dengan tindakan kateterisasi


3.        RENCANA TINDAKAN
DX. 1 Inkontinensia berhubungan dengan obstruksi saluran kemih
Intervensi:
1.     pantau haluaran urin setiap 4 jam
2.   berikan terapi kompres dingin untuk merangasang urin keluar
3.   lakukan pemasangan kateter

DX. 2 Resiko komplikasi infeksi berhubungan dengan tindakan kateterisasi
Intervensi:
1.   pantau penampilan kulit sisi pemasangan kateter.
2.   ikuti tindakan kewaspadaan umum (teknik mencuci tangan yang baik sebelum dan   
     sesudah  kontak langsung dengan pasien, memakai sarung tangan bila kontakl dengan  
      darah atau cairan tubuh yang mungkin terjadi).
3.   Konsul dokter bila terjadi kemerahan, bengkak dan drainase pada insisi atau sisi  
     pemasangan kateter, disertai demam. Ambil specimen dari drainase untuk kultur. Berikan
     antibiotic yangdiresepkan dan evaluasi keefektifannya.

DX. 3 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan obstruksi kandung kemih
Intervensi
1.     pantau haluaran urin terhadap perubahan warna, baud an pola berkemih
2.   pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam
3.   pantau hasil urinalisis ulang
4.   jika frekuensi menjadi masalah, jamin akses ke kamar mandi, pispot, tempat tidur
5.   Anjurkan pasien untuk berkemih kapan saja sesuai keinginan.
6.   kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai dengan kebutuhan.











pathway
Kecelakaan        fraktur tulang panggul      ruda paksa tumpul       ruda paksa tajam                   
 

        patah tulang                  kontusio                          ruptur                luka tusuk atau tembak
 


pelvis dan buli-buli

memar

 


trauma
 

 

obstruksi              jejas/ hematom abdomen               robekan dinding bladder
 

inkontinensia           tekanan kandung kemih                         perdarahan         

kateterisasi          nyeri tekan supra pubik                              anemi
                                                                                       
                                                                                                         
   resiko                          Gangguan rasa                      Syok hipovolemi
            komplikasi                        nyaman nyeri
              infeksi
                                         
                                     


DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, 1913260812 Buku Ajar Ilmu Bedah 865541 . Jakarta EGC.

En B,2006. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol 1. Jakarta EGC.

Emanuel A. Friedman, M. D.,Sc, Dkk. D. 2007. Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan GINEKOLOGI. Jakarta  Binarupa Aksara.


1 komentar: