ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN
DENGAN GANGGUAN PERKEMIHAN : GENITOURINARY TRAUMA
DI SUSUN
OLEH
OLEH:
KELOMPOK 1
1.
AKBAR
2.
KARTIA
3.
NURMINA
4.
KAMARUDDIN
5.
SUPRIADI
6.
SYAMSI LILI
7.
NURAENI
8.
INDRA.B
9.
FITRIANI MAPPASOMBA
10.
NURRAHMI
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
PATRIA ARTHA
MAKASSAR
2014
TRAUMA PADA SALURAN KEMIH
1.
TRAUMA
BLADDER
A.
Definisi
Trauma tumpul atau penetrasi
perlukaan pada bladder yang mungkin dapat/tidak dapat menyebabkan ruptur
bladder. Trauma bladder sering berhubungan dengan kecelakaan mobil saat sabuk
pengaman menekan bladder, khususnya bladder yang penuh.
B.
Etiologi
dan faktor resiko
Kandung kencing yang penuh dengan
urine dapat mengalami rupture oleh tekanan yang kuat pada perut bagian bawah.
Cidera ini umumnya terjadi karena pemakaian sabuk pengaman pada klitis.
C.
Manifestasi
klinik
Trauma bladder selalu menimbulkan
nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma
pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat
menunjukkan gejala kesulitan berkemih.
Test diagnostik pada
trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder
kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi
uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi
sampai disrupsi tersebut teratasi.
2.
TRAUMA
URETRA
Uretra, sama seperti bladder,
dapat mengalami cidera/trauma karena fraktur pelvic. Terjatuh dengan benda
membentur selangkangan (stradle injury) dapat menyebabkan contusio dan laserasi
pada uretra. Misalnya saat jatuh dari sepeda. Trauma dapat juga terjadi saat
intervensi bedah. Luka tusuk dapat pula menyebabkan kerusakan pada uretra.
Kerusakan uretra ini diindikasikan
bila pasien tidak mampu berkemih, penurunan pancaran urine, atau adanya darah
pada meatus. Karena kerusakan uretra, saat urine melewati uretra, proses
berkemih dapat menyebabkan ekstravasasi saluran urine yang menimbulkan
pembengkakan pada scrotum atau area inguinal yang mana akan menyebabkan sepsis
dan nekrosis. Darah mungkin keluar dari meatus dan mengekstravasasi jaringan
sekitarnya sehingga menyebabkan ekimosis. Komplikasi dari trauma uretra adalah
terjadinya striktur uretra dan resiko impotent. Impotensi terjadi karena corpora
kavernosa penis, pembuluh darah, dan suplay syaraf pada area ini mengalami
kerusakan.
Penatalaksanaan trauma uretra
meliputi pembedahan dengan pemakaian kateter uretra atau suprapubik sebelum
sembuh, atau pemasangan kateter uretra/suprapubik dan membiarkan urethra sembuh
sendiri selama 2 – 3 minggu tanpa pembedahan. Selama periode tersebut pasien
dimonitor untuk terjadinya infeksi atau ekstravasasi urine.
3.
TRAUMA
URETER
Lokasi ureter berada jauh di dalam
rongga abdomen dan dilindungi oleh tulang dan otot, sehingga cidera ureter
karena trauma tidak umum terjadi. Cidera pada ureter kebanyakan terjadi karena
pembedahan. Perforasi dapat terjadi karena insersi intraureteral kateter atau
instrumen medis lainnya. Luka tusuk dan tembak juga dapat juga membuat ureter
mengalami trauma. Dan meskipun tidak umum, tumbukan atau decelerasi tiba-tiba
seperti pada kecelakaan mobil dapat merusak struktur ureter. Tindakan
kateterisasi ureter yang menembus dinding ureter atau pemasukan zat asam atau
alkali yang terlalu keras dapat juga menimbulkan trauma ureter.
Trauma ini kadang tidak ditemukan
sebelum manifestasi klinik muncul. Hematuria dapat terjadi, tapi indikasi umum
adalah nyeri pinggang atau manifestasi ekstravasasi urine. Saat urine merembes
masuk ke jaringan, nyeri dapat terjadi pada abdomen bagian bawah dan pinggang.
Jika ekstravasasi berlanjut, mungkin terjadi sepsis, ileus paralitik, adanya
massa intraperitoneal yang dapat diraba, dan adanya urine pada luka terbuka.
IVP dan ultrasound diperlukan untuk mendiagnose trauma ureter ini. Pembedahan
merupakan tindakan utama untuk memperbaiki kerusakan, mungkin dengan membuat
anastomosis. Kadang-kadang prosedur radikal seperti uterostomy cutaneus,
transureterotomy, dan reimplantasi mungkin dilakukan.
1.
PENGKAJIAN
KEPERAWATAN
Pada dasarnya pengkajian yang
dilakukan menganut konsep perawatan secara holistic. Pengkajian dilakukan
secara menyeluruh dan berkesinambungan. Pada kasus ini akan dibahas
khusus pada sistim tubuh yang terpengaruh :
a. Ginjal (Renal)
Kemungkinan Data yang diperoleh :
-
Oliguria
(produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam)
-
Anuria
(100 cc / 24 Jam
-
Infeksi
(WBCs , Bacterimia)
-
Sediment
urine mengandung : RBCs ,
b. Riwayat sakitnya dahulu.
-
Sejak
kapan muncul keluhan
-
Berapa
lama terjadinya hipertensi
-
Riwayat
kebiasaan, alkohol,kopi, obat-obatan, jamu
-
Waktu
kapan terjadinya nyeri kuduk dan pinggang
c. Pola : Makan, tidur, eliminasi,
aktifitas, dan kerja.
d. Pemeriksaan fisik
· Peningkatan vena jugularis
· Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas
· Anemia dan kelainan jantung
· Hiperpigmentasi pada kulit
· Pernapasan
· Mulut dan bibir kering
· Adanya kejang-kejang
· Gangguan kesadaran
· Pembesaran ginjal
· Adanya neuropati perifer
e. Test Diagnostik
· Pemeriksaan fungsi ginjal, kreatinin dan
ureum darah
Menyiapkan pasien yang akan dilakukan Clearens
Creatinin Test (CCT) adalah:
· Timbang Berat badan dan mengukur tinggi badan
· Menanmpung urine 24 jam
· Mengambil darah vena sebanyak 3 cc (untuk
mengetahui kreatinin darah)
· Mengambil urine 50 cc.
· Lakukan pemeriksaan CCT
· Persiapan Intra Venous Pyelography
· Puasakan pasien selama 8 jam
· Bila perlu lakukan lavemen/klisma.
2.
DIAGNOSA PERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
a) Resiko tinggi kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan adanya stoma, aliran/rembesan urine dari stoma, reaksi
terhadap produk kimia urine.
b) Gangguan body image berhubungan dengan
adanya stoma, kehilangan kontrol eliminasi urine, kerusakan struktur tubuh
ditandai dengan menyatakan perubahan terhadap body imagenya, kecemasan dan
negative feeling terhadap badannya.
c) Nyeri berhubungan dengan disrupsi
kulit/incisi/drains, proses penyakit (cancer/trauma), ketakutan atau kecemasan
ditandai dengan menyatakan nyeri, kelelahan, perubahan dalam vital signs.
d) Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan
trauma jaringan, edema postoperative ditandai dengan urine output sedikit,
perubahan karakter urine, retensi urine.
e) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan
dengan gangguan struktur body dan fungsinya, response pasangan yang tidak
adekuat, disrupsi respon seksual misalnya kesulitan ereksi.
f) Deficit pengetahuan tentang kondisi, prognosis
dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk
menangkap informasi, misinterpretasi terhadap informasi ditandai dengan
menyatakan miskonsepsi/misinterpretasi, tidak mampu mengikuti intruksi secara
adekuat.
g) Inkontinensia berhubungan dengan obstruksi
saluran kemih
h) Resiko komplikasi infeksi berhubungan dengan
tindakan kateterisasi
3.
RENCANA TINDAKAN
DX. 1 Inkontinensia
berhubungan dengan obstruksi saluran kemih
Intervensi:
1. pantau haluaran urin setiap 4 jam
2.
berikan terapi kompres
dingin untuk merangasang urin keluar
3.
lakukan pemasangan
kateter
DX. 2 Resiko
komplikasi infeksi berhubungan dengan tindakan kateterisasi
Intervensi:
1. pantau penampilan kulit sisi pemasangan
kateter.
2.
ikuti tindakan
kewaspadaan umum (teknik mencuci tangan yang baik sebelum dan
sesudah kontak langsung dengan pasien, memakai sarung
tangan bila kontakl dengan
darah atau cairan tubuh yang mungkin
terjadi).
3. Konsul dokter bila terjadi kemerahan, bengkak
dan drainase pada insisi atau sisi
pemasangan kateter, disertai demam. Ambil
specimen dari drainase untuk kultur. Berikan
antibiotic yangdiresepkan dan evaluasi
keefektifannya.
DX. 3 Gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan obstruksi kandung kemih
Intervensi
1. pantau haluaran urin terhadap perubahan warna,
baud an pola berkemih
2.
pantau masukan dan
haluaran setiap 8 jam
3.
pantau hasil
urinalisis ulang
4.
jika frekuensi menjadi
masalah, jamin akses ke kamar mandi, pispot, tempat tidur
5.
Anjurkan pasien untuk
berkemih kapan saja sesuai keinginan.
6.
kolaborasi dalam
pemberian analgetik sesuai dengan kebutuhan.
pathway
memar
trauma
kateterisasi nyeri
tekan supra
pubik anemi
resiko Gangguan
rasa Syok
hipovolemi
komplikasi nyaman
nyeri
infeksi
DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, 1913260812 Buku Ajar Ilmu Bedah 865541
. Jakarta EGC.
En B,2006. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol 1. Jakarta EGC.
Emanuel A. Friedman, M. D.,Sc, Dkk. D. 2007. Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan
GINEKOLOGI. Jakarta Binarupa Aksara.

sankyu
BalasHapus