Standar Penilaian Kinerja Perawat
Nursalam, (2008) standar pelayanan keperawatan adalah
pernyataan deskriptif mengenai kualitas pelayanan
yang diinginkan untuk menilai pelayanan keperawatan yang telah diberikan pada pasien. Tujuan standar keperawatan adalah meningkatkan kualitas asuhan keperawatan,
mengurangi biaya asuhan keperawatan, dan melindungi perawat dari kelalaian dalam melaksanakan tugas dan melindungi pasien dari tindakan yang tidak terapeutik.
Dalam menilai kualitas pelayanan keperawatan kepada klien digunakan standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Standar praktek keperawatan telah di jabarkan oleh
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesi) (2000) yang
mengacu dalam tahapan
proses keperawatan yang meliputi: (1)
Pengkajian; (2) Diagnosa
keperawatan; (3) Perencanaan; (4) Implementasi; (5) Evaluasi.
a.
Standar Satu: Pengkajian Keperawatan
Perawat mengumpulkan
data
tentang
status kesehatan
klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan. Kriteria pengkajian keperawatan, meliputi:
1) Pengumpulan data dilakukan dengan
cara anamnesa, observasi, pemeriksaan fisik serta dari pemeriksaan penunjang.
2) Sumber data adalah klien, keluarga, atau orang yang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lain.
3) Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi:
a) Status kesehatan klien masa lalu
b) Status kesehatan klien saat ini
c) Status biologis-psikologis-sosial spiritual
d) Respon
terhadap terapi
e) Harapan
terhadap tingkat kesehatan yang optimal
f) Resiko-resiko tinggi masalah
b.
Dua: Diagnosa Keperawatan
Perawat menganalisa data pengkajian untuk
merumuskan dignosa keperawatan. Adapun kriteria proses:
1) Proses
diagnosa
terdiri
dari analisa, interpretasi data, identikasi
masalah klien, dan perumusan diagnose keperawatan.
2) Diagnosa
keperawatan
terdiri dari: masalah (P), Penyebab (E), dan tanda atau gejala (S), atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE).
3)
Bekerjasama
dengan klien,
dan
petugas
kesehatan lain
untuk memvalidasi diagnosa keperawatan.
4)
Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan data terbaru.
c.
Standar Tiga: Perencanaan Keperawatan
Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk
mengatasi masalah dan
meningkatkan kesehatan klien. Kriteria prosesnya, meliputi:
1)
Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan, dan rencana tindakan keperawatan.
2)
Bekerjasama dengan klien
dalam menyusun rencana tindakan keperawatan.
3)
Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien.
4)
Mendokumentasi rencana keperawatan.
d.
Standar Empat: Implementasi
Perawat
mengimplementasikan tindakan yang telah
diidentifikasi
dalam rencana asuhan keperawatan. Kriteria proses, meliputi:
1)
Bekerja
sama dengan
klien
dalam pelaksanaan
tindakan
keperawatan
2)
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
3)
Melakukan tindakan keperawatan untuk
mengatasi kesehatan klien.
4)
Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai konsep keterampilan asuhan diri serta membantu
klien
memodifikasi lingkungan yang digunakan.
5)
Mengkaji ulang
dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan
berdasarkan respon klien
e.
Standar Lima: Evaluasi Keperawatan
Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan keperawatan
dalam pencapaian
tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan. Adapun kriteria prosesnya:
1) Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.
2) Menggunakan
data dasar dan respon
klien
dalam
mengukut perkembangan ke arah pencapaian tujuan.
3) Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat.
4) Bekerja
sama dengan klien keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan.
5) Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan.
Motivasi Kerja Perawat di
Rumah Sakit
Motivasi penting karena
dengan
motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja
keras dan antusias untuk
mencapai produktifitas kerja yang tinggi (Hasibuan, 2007).
Perawat manajer perlu memahami tentang
motivasi karena organisasi hanya dapat mencapai tujuannya jika seluruh anggota
organisasi berupaya menampilkan kinerja yang
optimal. Anggota organisasi bersedia meningkatkan
kinerja jika ada keyakinan
bahwa kebutuhan, tujuan, harapan, keinginan, dan keperluannya
tercapai. Hasil penelitian Juliani
(2007) yang
mengkaji motivasi
intrinsik terhadap kinerja
perawat di rumah sakit P medan
menunjukkan bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara motivasi
intrinsik berdasarkan tanggung jawab, peluang untuk maju, dan
kepuasan kerja terhadap kinerja
perawat di rumah sakit. Hasil serupa
juga
didapatkan dari penelitian Supatman (2002) di rumah
sakit I yang mengkaji variabel motivasi intrinsik dan ekstrinsik
dihubungkan dengan
prestasi kerja menunjukkan
bahwa adanya hubungan yang bermakna dengan prestasi
kerja perawat adalah gaji,
kebijakan institusi, supervisi, penghargaan, tanggung
jawab, dan kesempatan
berkembang.
Penelitian Marni
(2010) menunjukkan bahwa motivasi
(prestasi, pengembangan,
kondisi kerja, dan
pengakuan)
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perawat pelaksana
di rumah sakit. Perawat yang mempunyai prestasi baik,
mendapatkan pengembangan baik, kondisi kerja
baik, serta mendapatkan pengakuan secara baik, maka memiliki probabilitas kinerja
87,01%
artinya
perawat
yang termotivasi
akan
menampilkan kinerja baik dalam melakukan pelayanan
asuhan keperawatan
kepada klien.
Penelitian Indrastuti (2010) mengkaji perilaku caring dan
motivasi terhadap kinerja perawat di rumah sakit S berdasarkan faktor internal
dan ekternal yang ada dalam pekerjaan perawat sesuai dengan teori motivasi Herzberg
menunjukkan bahwa motivasi perawat di rumah sakit S berhubungan secara signifikan
dengan kinerja perawat pelaksana dalam asuhan keperawatan.
Motivasi perawat dalam
penelitian ini diukur dengan kuesioner motivasi perawat yang diadopsi dari
teori motivasi Herzber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar